Saat
menikmati tetesan hujan yang turun dari langit yang sudah menyembunyikan
cerahnya dimana detik-detik diri ini menuju tempatku melepas lelah, tempat
keseharianku beristirahat, tempat diri ini membaringkan tubuh lelah yang telah
beraktivitas seharian di ruangan tertutup yang penuh dengan tumpukan arsip
kesuksesanku, terlintas sejenak dipikiran bagaimana diri bisa sampai di tanah
rencong ini, bagaimana kedua kaki yang yang masih kokoh ini bisa sampai
berpijak di tanah ini.
Tanah
yang kini sudah mulai basah oleh butiran air hujan dan tanpa disadari kalau
butiran hujan itu kini sudah membasahi kepala hingga seragam orange
kebanggaanku, tapi diri ini tidak menghindari butiran air hujan tersebut
melainkan ikut menari dan menikmati irama butiran air hujan yang berjatuhan di
atap rumah sekitar seolah menghiburku dalam membantu diri ini melepas lelah.
Baru
saja diriku merasakan daerah yang memiliki sejuk, tenang dan tentram. Setiap
bangun pagiku selalu disambut dengan suara kokok ayam jantan yang begitu
bersemangatnya seperti mengisyaratkan rasa syukur kepada Alloh SWT karena masih
bisa melihat terbitnya sang mentari dan berkokok dengan kuatnya untuk membangunkan
setiap makhluk dari tidurnya.
Supir
angkot juga tidak ketinggalan berlomba mengejar rizky telah siap membariskan
angkotnya secara tertib. “Siapa cepat Datang
dia duluan kebagian penumpang”, sekilas kalimat ini hanya kalimat biasa
akan tetapi dari kalimat ini rasa keadilan bisa terbentuk, rasa kedisplinan
bisa terwujud. Handuk putih yang melingkar di leher sudah siap digunakan untuk
mengeringkan keringat yang akan segera membasahi kulit kepala hingga tubuh perkasa
para pejuang jalanan tersebut, rasa lelah bukan menjadi penghalang untuk
mengejar rizky dengan tujuan bisa membawa sedikit hadiah untuk istri yang
selalu setia menunggu kepulangan suaminya dan anak yang menanti mainan dari sang
Ayah.
.jpg)


.jpg)